Bebek Peking: Warisan Kuliner Tiongkok yang Memesona
Bebek Peking, atau Peking Duck, adalah salah satu hidangan Tiongkok paling ikonik yang telah memikat selera masyarakat global selama berabad-abad. Dikenal karena kulitnya yang renyah seperti kaca dan dagingnya yang empuk serta beraroma, hidangan ini bukan sekadar makanan, melainkan sebuah mahakarya kuliner yang mencerminkan sejarah panjang dan teknik memasak Tiongkok yang canggih.
Sejarah Singkat dan Evolusi
Sejarah Bebek Peking dapat ditelusuri kembali ke Dinasti Yuan pada abad ke-13, ketika hidangan bebek panggang ini menjadi favorit di istana kekaisaran. Pada masa Dinasti Ming (abad ke-15), hidangan ini mulai populer di kalangan bangsawan dan catatan resepnya didokumentasikan secara rinci. Nama “Bebek Peking” sendiri merujuk pada ibu kota Tiongkok, Beijing (sebelumnya Peking), tempat hidangan ini disempurnakan dan dipopulerkan.
Selama berabad-abad, teknik pembuatannya terus berevolusi, beralih dari pemanggangan dengan cara tertutup menjadi pemanggangan dengan cara digantung terbuka di atas api kayu buah-buahan tertentu, seperti persik atau pir, untuk memberikan aroma khas pada dagingnya.
Proses Pembuatan yang Rumit dan Teliti
Apa yang membedakan Bebek Peking dari hidangan bebek panggang lainnya adalah proses persiapannya yang sangat rumit dan memakan waktu. Proses ini bisa memakan waktu hingga dua hari.
- Pengolahan Awal: Bebek yang dipilih secara khusus (biasanya jenis bebek putih Peking) dibersihkan, dan organ dalamnya dikeluarkan.
- Pengolesan Bumbu: Bebek kemudian diolesi dengan bumbu-bumbu, seperti bumbu lima rempah (five spice powder), dan kadang-kadang saus maltosa atau madu.
- Pengeringan: Langkah paling krusial adalah pengeringan. Udara dipompa di bawah kulit untuk memisahkannya dari lemak, kemudian bebek digantung di tempat yang sejuk dan berventilasi selama berjam-jam, atau bahkan semalaman. Proses pengeringan ini yang menghasilkan kulit ekstra renyah saat dipanggang.
- Pemanggangan: Bebek digantung di dalam oven gantung khusus dan dipanggang pada suhu tinggi. Lemak di bawah kulit akan meleleh, meninggalkan kulit yang tipis, mengkilap, dan renyah berwarna mahoni.
Seni Penyajian dan Cara Menikmati
Penyajian Bebek Peking adalah sebuah ritual tersendiri. Koki ahli akan mengiris kulit dan daging secara tipis dan rapi di depan tamu. Irisan ini kemudian disusun dengan indah di atas piring.
Cara tradisional untuk menikmati Bebek Peking adalah dengan mengambil selembar panekuk tipis (mandarin pancake atau báo bǐng), mengoleskan sedikit saus hoisin yang manis gurih, menambahkan beberapa irisan daun bawang dan mentimun, dan akhirnya meletakkan irisan bebek renyah di atasnya. Panekuk kemudian dilipat atau digulung menjadi bungkusan kecil yang lezat. Setiap gigitan menawarkan kombinasi tekstur yang sempurna: renyahnya kulit, lembutnya daging, segarnya sayuran, dan kekayaan rasa dari saus hoisin.
Seringkali, sisa daging dan tulang bebek tidak dibuang, melainkan diolah menjadi hidangan kedua, seperti sup bebek atau tumisan daging bebek dengan sayuran, memastikan tidak ada bagian yang terbuang.
Lebih dari Sekadar Hidangan
Bebek Peking bukan hanya tentang rasa; ini tentang pengalaman komunal, keahlian, dan tradisi. Di Indonesia, hidangan ini sering menjadi pusat perhatian dalam perayaan makan keluarga atau acara khusus di restoran Tiongkok mewah. Kehadirannya selalu menjanjikan kemewahan dan kepuasan kuliner.
Sebagai hidangan yang telah bertahan dalam ujian waktu, Bebek Peking tetap menjadi duta besar kuliner Tiongkok, menawarkan smoky ribs pengalaman rasa yang tak tertandingi dan membuat siapa pun yang mencicipinya ingin kembali lagi. Ini adalah bukti nyata bagaimana teknik sederhana (pemanggangan) dapat diubah menjadi seni yang kompleks dan dihargai secara global.